Minggu, 07 Juli 2019

Jari bukan alat untuk menjadi Tuhan





Jari jemarišŸ‘

Saya  bersyukur di anugerahkan jari jemari yang sempurna.

Jari untuk meraba, memegang, menulis.



Jari yang mengenalkan saya pada sentuhan tangan ibu (saat baru terlahir)

Saya selalu bertanya pada diri, bagaimana jika saya terlahir tanpa tangan (tak memiliki jari ini ?)

Apa saya akan bersedih ?

Orang yang tak memiliki jari mungkin bersyukur.



Mereka pasti akan merasa menjadi orang yang lebih baik dari kebanyakan yang berjari seperti saya (sekarang ini)

Jari belakangan tak lagi banyak berguna

Jari lebih banyak bercengkrama dengan tombol qwerty ponsel pintar



Jari menjelma Tuhan dengan penghakiman maupun provokasi di kolam komentar media sosial orang lain



Jari lupa bahwa dirinya hanya titipan Tuhan (bukan hanya jari, tapi setiap inci jasad ini)

Jari bertindak berdasarkan rangkuman otak dalam menyerap sesuatu

Jari tak bertanya pada kalbu berhak tidaknya menghakimi atau memprovokasi

Jari kehilangan fungsi baiknya

Jari tersesat di pikiran manusia yang merasa diri suci

Jari, bahagiakah kamu setelah melakukan hal yang tak berfaedah ?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar