Minggu, 14 Juli 2019

Darurat penambahan PTN

Ini hal yang menurut saya penting dan ingin saya tulis sejak mendengar temennya kiki (anak saya) ikut SBM PTN dan ujian tertulis UGM di USU yang hasilnya gagal semua (uang pendaftaran yang jumlahnya tak kecil dengan pengharapan yang besar, dan hasil yang tak memuaskan)

Dari sana saya langsung ingin tahu berapa jumlah PTN di Indonesia. Yang dari hasil penelusuran menyebutkan terdapat 122 PTN  (sumber :  https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/05/05/berapa-jumlah-perguruan-tinggi-di-indonesia )

Dari 122, ada 85 universitas yang bergabung dalam SBMPTN tahun 2019. Jumlah peserta yang mendaftar terhitung 714. 652 orang  (sumber :   https://makassar.tribunnews.com/2019/06/25/714652-peserta-daftar-sbmptn-2019-85-ptn-sediakan-kuota-40-552614-peserta-dipastikan-gagal )

Dengan  jumlah  peserta yang dinyatakan lulus sebanyak 168.742 ( sumber : https://belmawa.ristekdikti.go.id/2019/07/09/pengumuman-hasil-seleksi-jalur-sbmptn-2019/ )
Artinya ada  sekitar 26% saja yang diterima di PTN dari keseluruhan pendaftar yang membayar biaya SBMPTN sebesar 200.000,- / per orang.

200.000 hangus. Namun sebagian lulusan baru masih ingin mencoba peruntungan kembali dengan mengikuti Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMMPTN) dengan biaya sekitar 300.000/ orang  (sumber : http://smmptnbarat.id/informasi-umum.html )

Saya tidak tahu berapa jumlah keseluruhan peserta UTUL PTN, yang jelas untuk UGM sendiri diikuti 60.563 peserta.  Memperebutkan 2115 kursi program sarjana dan 443 kursi program diploma (sumber https://ugm.ac.id/id/berita/16469-serentak-di-4-kota-besar-seleksi-ujian-tulis-ugm-diikuti-60-ribu-peserta )

Jumlah peserta yang tidak sedikit, dengan begitu banyak uang pendaftaran yang masuk, dan daya tampung yang tidak sampai sepuluh persennya. (contoh UGM belum universitas lain)

Rasanya tidak adil jika melihat infrastruktur ditambah namun universitas negeri tidak ditambah.

Mereka yang dari nilai bagus dan keuangan lumayan mungkin bisa menjajal PTN Luar negeri seperti di Malaysia, Taiwan, Turki atau India. Namun bagaimana dengan yang kurang mampu ?

Apa mereka harus terdampar di universitas swasta yang kita tahu sendiri, untuk mencari yang setara PTN kualitasnya harus membayar mahal (UPH dan Telkom contohnya)

PTS murah kebanyakan minim fasilitas. Menempati ruko dan system pembelajaran yang ala kadarnya. (di Medan anda bisa menemukan PTS semacam ini menjamur. Entah untuk kuliah serius atau sekedar menjual ijasah)

Miris ketika negeri kita melakukan pembangunan infrastruktur besar-besaran namun PTN untuk menimba ilmu para SDM-nya masih minimalis dan belum dilakukan penambahan.

 Besar harapan saya pemerintah menyiapkan sejumlah PTN baru untuk memastikan bahwa lima puluh persen pendaftar SBM PTN dan UTUL mendapatkan kesempatan belajar di Universitas Negeri (dan bukan seperti sekarang yang seolah, uang pendaftaran hanya sekedar modal berjudi keberuntungan)

Minggu, 07 Juli 2019

Jari bukan alat untuk menjadi Tuhan





Jari jemari­čĹÉ

Saya  bersyukur di anugerahkan jari jemari yang sempurna.

Jari untuk meraba, memegang, menulis.



Jari yang mengenalkan saya pada sentuhan tangan ibu (saat baru terlahir)

Saya selalu bertanya pada diri, bagaimana jika saya terlahir tanpa tangan (tak memiliki jari ini ?)

Apa saya akan bersedih ?

Orang yang tak memiliki jari mungkin bersyukur.



Mereka pasti akan merasa menjadi orang yang lebih baik dari kebanyakan yang berjari seperti saya (sekarang ini)

Jari belakangan tak lagi banyak berguna

Jari lebih banyak bercengkrama dengan tombol qwerty ponsel pintar



Jari menjelma Tuhan dengan penghakiman maupun provokasi di kolam komentar media sosial orang lain



Jari lupa bahwa dirinya hanya titipan Tuhan (bukan hanya jari, tapi setiap inci jasad ini)

Jari bertindak berdasarkan rangkuman otak dalam menyerap sesuatu

Jari tak bertanya pada kalbu berhak tidaknya menghakimi atau memprovokasi

Jari kehilangan fungsi baiknya

Jari tersesat di pikiran manusia yang merasa diri suci

Jari, bahagiakah kamu setelah melakukan hal yang tak berfaedah ?