Jumat, 21 Juni 2019

Pengalaman KPR bank Mandiri

Awal 2011  setelah lima tahun suami di pindah dinas ke medan, kami berpikir untuk membeli rumah. alasannya jelas karena sudah bosan mengontrak (sebelumnya kami tinggal di bekasi dan sudah rumah sendiri)

                Jadi mulailah kami hunting perumahan yang dekat sekolah anak dan dekat kantor suami, johor menjadi pilihan karena selain dekat keduanya udaranya masih sejuk.

               Di johor kebanyakan perumahan bekerjasama dengan bank Mandiri. Bank pemerintah yang kami pikir akan menjalankan prinsip-prinsip KPR yang manusiawi untuk warga negaranya.

                Jadi ketika kami menemukan lokasi perumahan type 60 dengan 3 kamar yang harga jualnya 265 juta kami memutuskan untuk mengambil. Tiga kamar rasanya pas untuk kami yang memiliki seorang anak laki dan seorang anak perempuan.

                Mulailah kami membayar uang muka 20%, melengkapi dokumen dan kemudian diajukan ke bank Mandiri oleh developer. Dari Mandiri tidak banyak informasi yang saya terima kecuali sekali telphone yang menyampaikan bahwa appraisal akan datang dan mohon menyerahkan uang appraisal sebesar 500rb.

                Beberapa hari kemudian setelah appraisal yang  sekedar formalitas (datang dan menerima uang), kami mendapat kabar bahwa KPR di acc.

                Kami kemudian dijadwalkan melakukan akad kredit di kantor Mandiri imam bonjol. Kesalahan kami, tak membaca dokumen perjanjian yang diberikan Mandiri. Hanya menyimak informasi sekilas bahwa bunga 8% dan angsuran 2,1 juta per bulan.

                Tiga tahun mengangsur, angsuran mendadak naik menjadi 2,7 tanpa pemberitahuan. Saya baru menyadari ketika Mandiri menghubungi dan mengatakan ada kekurangan. Dari sini saya baru mencari tahu tentang bunga di bank Mandiri.

                Yap, ternyata yang saya ambil bunga anuitas. Yang flat tiga tahun 8% (tanpa berpatokan suku bunga bank Indonesia= floating). Setelah tiga tahun bunga naik menjadi 11%. (bunga suka-suka bank)

                Bunga yang besar dan jika ditotal DP berikut angsuran hingga selesai, total yang harus saya bayar sekitar 400juta lebih.

                Terpikir untuk melakukan extra payment tiap kali bonusan seperti waktu saya mengambil  kredit BTN. Namun ternyata bank Mandiri cerdik, di Mandiri hanya ada program refinancing (sekali mengangsur pokok hutang, lalu pelunasan)

                2015, rumah hasil pembangunan developer yang dikerjakan secara massal mulai membutuhkan renovasi. Terpikir untuk Top Up KPR walau sadar bunganya mencekik.

                Kami mendatangi bank Mandiri, membayar appraisal ditempat sebesar 1 juta, lalu tidak ada kabar. Ketika kami hubungi dikatakan pengajuan kami ditolak karena pernah ada keterlambatan bayar (menurut saya aneh, kenapa tidak BI checking dulu sebelum saya diminta membayar biaya appraisal)

                2019, saya mulai muak mengangsur bunga yang hampir sama nilainya dengan KPR. Ditambah sulitnya untuk melakukan top up renovasi di bank Mandiri (lucu kalau saya bilang, bank pemerintah tidak mengayomi warga negaranya)

                Jadi mulailah saya berburu bank swasta untuk proses KPR TOP UP, dan kebetulan di acc bank UOB (bank singapur) yang lebih wajar dalam memberi suku bunga dan kemudahan extra payment jika saya memiliki dana untuk mengurangi pokok hutang.

                Sementara di Mandiri, dp 20% + angsuran 2,1 (3 tahun pertama) + 2,7 (hingga mei 2019) + sisa hutang 150jt+ pinalti 2% (mengherankan setelah lewat 3 tahun mengangsur saya masih dikenakan pinalti) + bunga harian berjalan selama proses pelunasan = total bunga yang harus dibayar hampir sama dengan pokok hutang (inikah yang disebut bank pemerintah ?)

                Dan cukup kecewanya ketika kami menyampaikan take over ke bank lain, pihak Mandiri seolah mempersulit. Bukan itu saja, Mandiri juga menawarkan untuk Top Up KPR di Mandiri (amnesia mungkin pernah nolak Top Up KPR saya)

                 Lebih mengecewakan ternyata surat rumah saya hanya sertifikat SHM belum ada IMB (bagaimana bisa bank pemerintah melewatkan prosedur kelengkapan dokumen nasabahnya) apa hanya laba bunga yang dikejar ?.

                Satu lagi yang membuat saya tak habis pikir, asuransi jiwa dan kebakaran untuk pelunasan dipercepat tidak di informasikan. Tapi harus saya yang menanyakan refundnya kemana (siapa yang ingin bermain dengan uang nasabah ? ).

*** pelajaran buat saya untuk nggak berurusan lagi dengan bank pemerintah yang ternyata menganak tirikan nasabahnya (yang jelas WNI dan harusnya diayomi)   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar