Sabtu, 22 Juni 2019

Mahalnya Tarif Penerbangan

Jumlah penumpang pesawat terbang di Indonesia tiap tahun meningkat. Namun raksasa dari bisnis ini tetap dikuasai duapoli garuda dan lion air. Maskapai pemerintah yang tarifnya tak murah dan maskapai swasta yang seringkali mengalami keterlambatan serta insiden dalam penerbangannya namun tak pernah mendapat sanksi tegas )

                Tarif kedua raksasa maskapai domestic tersebut buat saya terbilang tak murah kalau dibanding maskapai asing seperti air asia, jetstar atau scoot. Atau dibandingkan maskapai-maskapai yang terbang dari negara Malaysia atau singapore

Tidak percaya cek saja situs e tiket dan bandingkan tarif untuk lama penerbangan yang sama (direct tanpa transit).

Semisal ;
-         
Kuala lumpur – kuala Terengganu  / jakarta – semarang.

-          Singapore – Surabaya / jakarta – medan

Lama perjalanan sama, namun tarif penerbangan bisa memiliki selisih lebih dari dua atau tiga ratus ribu dari penerbangan negara lain (Itu belum kalau hari raya dan hari besar lainnya). kalau seperti ini tanya siapa ?

Saya yang awam hanya ingin bertanya pada menteri perhubungan, apa tarif batas bawah benar-benar menjamin maskapai bisa melayani dengan lebih baik ? apa tidak boleh saya sebagai warga menuntut dihapuskan ?  atau saya harus mendesak percepatan masuknya tambahan maskapai asing di penerbangan domestic sehingga mendapat tarif yang lebih rasional ?

Indonesia masih bertumbuh, masyarakatnya belum bisa dibilang sejahtera semua dibanding negara tetangga-nya. penerbangan kelas ekonomi digunakan warga juga bukan karena untuk gaya atau merasa berlebih. Penerbangan ekonomi digunakan atas dasar efisiensi waktu dibanding naik transportasi darat atau laut yang lebih memakan waktu.

Tarif tinggi jelas membebani mahasiswa yang kuliah diluar pulau  dan ingin mudik saat liburan dan pegawai yang di mutasi tanpa tunjangan mudik. Buntutnya muncul petisi https://www.change.org/p/menhub-budikaryas-turunkan-harga-tiket-pesawat-domestik-indonesia

Bagi maskapai yang merajai pasar domestic jelas menguntungkan menjual tiket tinggi. Namun untuk ke depan, bisnis yang dijalankan dengan mengedepankan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari memanfaatkan demand yang tinggi bukanlah hal yang bisa membuat maskapai besar.

Sebaliknya , di era penerbangan murah di semua negara. Tarif penerbangan domestic yang mahal hanya akan membuat orang enggan berwisata dalam negeri. Orang akan lebih memilih melancong ke luar negeri yang tiketnya jauh lebih murah. Semisal warga medan, pekanbaru,  aceh dan batam yang lebih tertarik ke Malaysia atau singapur daripada ke pulau jawa .

Tarif mahal mungkin memberi profit sebesar-besarnya untuk maskapai. Tapi tidak membuat maskapai besar diluar kandang  (Indonesia).

          Contoh gampang air asia, bagaimana ia bisa dikenal diluar negaranya (Malaysia) kalau bukan tarif murah dengan pelayanan yang memuaskan (murah tapi kualitas tetap prima).


         Belajarlah untuk tidak memanfaatkan demand demi kepentingan tertentu. Belajar untuk memantaskan tarif di harga yang rasional. Jangan sampai ada warga negara tetangga yang berpikir “Gila, ini negara katanya masih berkembang tapi jualan tiket mahal banget dibanding negara gue. Emang nggak kasihan sama warganya yang udah susah masih diperes ?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar