Minggu, 09 Juni 2019

Financial Planner perlukah ?

Kadang kita menganggap sepele kerja financial planner. Perancana keuangan yang mengurus aliran kas masuk dan keluar untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu ( terbebas dari hutang, hidup sejahtera, memiliki pengelolaan keuangan yang sehat dan mempersiapkan masa tua)

                Kebanyakan dari kita (termasuk saya) merasa mampu mengelola keuangan rumah tangga sendiri dengan prinsip mengutamakan papan, pangan, pendidikan dan kesehatan (tertuju pada prioritas umum)

                Sebagai ibu rumah tangga saya tak memikirkan ada kebutuhan-kebutuhan lain seperti kendaraan roda empat yang menurut suami saya perlu untuk dibeli karena kami punya anak dua (sudah besar-besar) dan tak lagi bisa muat jika hanya berboncengan dengan sepeda motor.

                Berawal dari rencana suami, saya berpikir menggunakan tabungan hanya untuk membeli agya (type kendaraan yang sesuai dengan budget saya)  namun mempertimbangkan kenyamanan penumpang, suami memutuskan mengambil vios yang artinya budget kami hanya cukup untuk DP dan kami harus mengangsur.

                Lalu dimulailah semua kekacauan keuangan saya, angsuran KPR + angsuran mobil dengan beban bunga yang kita tahu sendiri (bunga bank di Indonesia paling tinggi dibanding negara maju seperti amerika, singapur atau Malaysia) menimbulkan defisit keuangan rumah tangga kami.

                Dampaknya rasio utang kami sudah tidak lagi ideal. Angsuran tiap bulan kami dari dua kredit tersebut mengambil separuh gaji. Awalnya suami pikir, ok dia bisa handle dengan jualan banyak (sebagai sales mobil). Namun ternyata dalam praktiknya kami kewalahan. Hal yang mulai terasa setelah dua tahun mengangsur mobil.

                Dari sinilah saya merasa perlu membereskan semua masalah. Mulailah searching google lihat solusi apa yang bisa dilakukan, mampir ke female daily dan kaskus baca diskus untuk kasus yang sama dengan saya, lalu lihat blogger yang punya pengalaman sukses memangkas hutangnya.

                Dari baca-baca di internet saya mengambil keputusan untuk TOP UP KPR, berdasarkan rekomendasi di female daily dan kaskus pilihan saya jatuh ke bank  CIMB Niaga.

                Kenapa bank swasta, saya cukup pengalaman menjalin kerjasama dengan bank pemerintah. Rumah saya dibekasi KPR  BTN dengan system extra payment sehingga bisa lunas lebih cepat.

                Namun di bank mandiri atau bank pemerintah lainnya, extra payment tidak berlaku. Yang ada refinancing dua kali (BOM sekali, setelah itu pelunasan). Hal yang tidak mungkin saya lakukan karena bonus suami tak akan cukup untuk  sekali pelunasan.

                Bank pemerintah juga memberlakukan bunga anuitas, bukan floating yang mengikuti suku bunga bank (yang dalam pikiran saya masih ada kemungkinan turun).

                Berbeda dengan bank swasta yang lebih fleksible ; bisa extra payment, bunga floating dan appraisalnya bukan sekedar formalitas seperti bank pemerintah (di bank pemerintah appraisal datang, bayar lalu keputusan. Tanpa foto-foto unit yang diagunkan atau wawancara sama sekali)

                Balik ke TOP UP KPR yang rencananya untuk melunasi mobil sehingga hanya ada hutang KPR dan bunganya. Mulailah saya searching lagi sales mortage medan yang mempertemukan saya dengan Kevin.

                Kevin senior sales mortage yang orangnya helpfull banget, begitu saya menceritakan permasalahan saya dia menawarkan solusi pinjaman yang masuk akal untuk memangkas salah satu hutang (mobil) menjadi single pinjaman (KPR). Sehingga berkurang bunga yang harus saya bayar ke depannya kalau pinjaman di acc.

                Sebagai sales mortage, Kevin lebih mirip financial planner saya. dengan input dan masukan soal kelengkapan dokumen yang memungkinkan pinjaman di acc. (namun mungkin karena belum berjodoh, hasil analisis pinjaman saya ditolak)

                Menyerah untuk memanagemen hutang ? jelas nggak. Saya sempat berpikir untuk mencoba amalan.com namun responnya yang lambat dalam menjawab WA membuat saya  berpikir ulang.

                Saat yang sama Kevin merekomendasikan untuk mencoba di bank lain. kali ini UOB bank dengan pak adi. Sama dengan Kevin, pak adi ini orangnya juga helpfull. Pak adi meminta kelengkapan syarat pengajuan dengan tambahan SPT pajak tahunan. Sekitar dua minggu bolak balik melengkapi dokumen hasilnya hari ini dikabarkan kalau pinjaman kami di acc. (Alhamdulillah akhirnya bakal berkurang satu angsuran dan bunga saya yaitu mobil)

                Hal positif yang bisa saya bagi dari pengalaman saya adalah ;

-          Perlunya managemen hutang ketika hutang tersebut tidak lagi memiliki rasio ideal.

-          Managemen hutang menjadi mendesak saat kita menyadari defisit pengelolaan keuangan daripada surplus

-          Financial planner merangkap sales mortage adalah keberuntungan untuk anda yang menemukannya (karena selain saran mereka bisa memberi solusi untuk masalah anda)

Dan saya bersyukur dipertemukan dengan pak Kevin dan pak adi (tidak semua orang mendapatkan keberuntungan bertemu orang yang bisa memecahkan masalah keuangan kita)

-          Diakhir saya bisa katakan, jika negara ini cukup peduli dengan warganya mungkin harusnya ada lembaga resmi seperti amalan.com (versi pemerintah) yang menyediakan jasa managemen hutang atau financial planner untuk mengedukasi warga atau meringankan warga dari jerat hutang bertumpuk.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar